Senin, 16 Juni 2008

TOKO KECILKU

Hari ini anak-anak sedang evaluasi, aku tidak masuk kelas, kusempatkan buka blog, lama nggak nambah tulisannya. Tapi sebelumnya wajib aku mampir dulu ke blog sahabatku "selalu riang", pasti ada yang baru.

Yap... benar sekali..., ghiroh menulisnya luar biasa..., tapi e...e... namaku kok disebut-sebut...ditangannya sebuah kisah sederhana jadi luar biasa, di tangannya cerita biasa jadi istimewa, sungguh karunia Allah yang luar biasa. Dan dari Dia aku mengenal e-mail, blog, Syukron ukhti...biar aku nggak jadi ustadzah "gaptek"

Terus kuikuti blognya...,ada yang menarik di sana...sebuah foto, seorang bapak yang dia ceritakan dan yang dia sanjung dalam tulisannya, tapi ... siapa gadis di sebelahnya ?...oh...ternyata si"mbarep"yang lagi digadhang cucu darinya

Dari ceritanya, aku teringat Ayahku dan masa-masa menjelang pensiunnya (Beliau seorang pegawai di Kodya Surabaya). Beliau rancang dan Beliau wujudkan dengan istri tercintanya, hasilnya sebuah toko kecil di depan rumahku. Ummiku yang seorang aktifis dan wiraswastawan seperti mendapat tambahan energi dari sang Ayah. Tidak ada keluhan...menghadapi masa pensiunnya, Ayahku bersemangat sekali seperti menyongsong hari-hari istimewanya. Dari "toko kecil" kami itulah aku banyak belajar. Belajar...bagaimana harus bekerja keras (toko kami pasti buka paling pagi "ba'da shubuh) untuk menyambut rizki yang sudah Allah sediakan, belajar...bagaimana harus bersabar ketika pendapatan toko mengalami penurunan, belajar...bagaimana harus ramah kepada pembeli karena mereka ibarat raja di toko kami, belajar... kreatif dan inovatif supaya toko kami ramai dikunjungi pembeli, belajar... bagaimana harus jujur dalam takaran dan timbangan, belaja... bagaimana harus konsekuen dengan perintah zakat. Subhaanallah...."toko kecilku" banyak memberikan pembelajaran bagiku bagaimana menghadapi dan menghargai kehidupan, selain juga memberikan tambahan finansial yang sangat berarti bagi kami enam bersaudara.

Aku dan "toko kecilku" mengiringi perjalanan kami sekeluarga, semua putra-putri ayahku menikah...sampai saat itu datang. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji'un... Ummiku tercinta meninggal dengan penyakitn yang tanpa diketahui sebelumnya telah menyertai Beliau menjemput ajalnya. Sekelebat.... bayang-bayang Beliau menyertaiku. Aku rindu Mi....satu setengah tahun Beliau meninggalkan kami....tak kuasa air mata ini aku tahan....Aku rindu Mi....terngiang pesan Beliau "jadilah orang yang bermanfaat, pesan itu selalu beliau bisikkan kepada kami putra-putrinya dan menantu-menantunya. Tak terasa terus air mataku mengalir....sampai anak-anak terheran-heran melihatku...Ustadzah menulisnya kok sambil menangis....biarlah nak...engkau masih belum tahu rasanya kehilangan, apalagi seorang ibu. Tiada lagi doa-doanya yang selalu kita inginkan, tiada lagi pelukan hangatnya yang bisa menghilangkan keresahan, perhatian manjanya....kenangan yang begitu indah... maaf aku tidak bisa lagi melanjutkan cerita tentang beliau...

Kembali lagi ke "toko kecilku", kini Ayahku tetap sibuk mengurusnya, selain organisasi dan ta'lim untuk menghabiskan hari tuanya, sekiranya Ayahku bahagia dan cukup, "ora usah mikir Ayah, cukup hasile toko lan duit pensiunan", kadang justru Ayahku yang ngasih aku dan cucu-cucunya uang saku kalo aku berkunjung ke rumah Beliau di Surabaya.

Mudah-mudahan Beliau bisa bahagia di hari tuanya, tanpa membebani anak-anaknya, tanpa didampingi lagi istri tercinta, Aku sebagai anak ... kebahagian apa lagi yang aku berikan kepada Ayahku selain bisa menjalani hidup dengan baik dan bisa membuat Beliau bangga. Allahumma Thowwil Umurohu wa Barik fi Umrihi...Amiin.


Tidak ada komentar: